Pesan Untuk Diri Sendiri

Seseorang selalu mengingatkanku.
Jika kau seringkali membiarkan dirimu larut dalam rasa sedih atau menangisi sesuatu yang tidak perlu, itu sama saja dengan kufur nikmat.
Tidak mensukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan kepadamu.

Ingat-ingat kembali apa saja yang kau miliki.
Tubuh yang sehat, keluarga yang lengkap dan berkecukupan.
Level-level hidup yang telah berhasil dicapai.
Seseorang yang dengan tulus mencintai.

Lalu apa yang membuatmu sedih?
Apakah hal tersebut lebih penting daripada anugerah yang telah kau terima dalam hidupmu?
Apakah alasan untuk bersedih itu lebih pantas daripada alasan untuk bersukur?

Think again!
Save your tears
Mubazir bersedih untuk sesuau yang tidak akan ada hubungannya dengan masa depanmu kelak.

Advertisements

tiada sisi temu

kita adalah dua keping berbeda
yang tidak memiliki sisi temu
dan tak dapat menciptakan serpihan pelengkap
untuk mengisi kekosongan antara kita

Ribuan Detik Retrouvailles Bersamamu

Kita bertemu dan terlempar ke masa lalu
Mengenang kisah-kisah yang tak bisa membuat kita bersatu

~
Ketika itu mati lampu
Ketakutan tidak memberiku pilihan kecuali meneriakkan namamu
Kau datang menjagaku dalam kantuk
Debar tersemai saat itu, tumbuh menjelma siluetmu
Indah dalam gelap

~
Saat mengantarku pulang sebuah lagu kau perdengarkan
dan kita berputar memperpanjang rute jalan hanya untuk mengulangnya bersama

Tiba-tiba aku meremas lenganmu
Ada ancaman di mata-mata sapi dengan tanduk-tanduk tajamnya
Kikuk, remasan itu melunak menjadi genggaman dan bergerak turun ke telapak tangan
Hingga tiba

~
Sengatan listrik di ujung jemari membuat kita candu
Sembunyi-sembunyi kita tautkan dalam gelap di tengah pemutaran film saat serempak mengambil berondong jagung

Sengatan itu sampai ke kepala dan merombak ulang pemikiran, cita-cita, semua yang rapi kususun
– bukan bersamamu

Pandangan yang kita curi satu sama lain
Sentuhan-sentuhan yang kita cari-cari waktunya
Gambar hati yang buru-buru kau hapus dari punggung tanganmu sesaat setelah aku iseng mencoretkannya

Dari semua itu kita tahu ‘kita tak dapat bersatu’
walau bersamamu bagai sebuah mimpi terwujud bagiku
Merasakan cinta yang jatuh dan sadar harus pupus pada akhirnya

Andai bisa kubeli waktu
Aku ingin ribuan detik retrouvailles bersamamu

140524
@kekasihpuisi

Malam Puisi Palembang #9

… yang pantaskah diberi?

Aku sedang mencoba merapikan logika dan rasa.

Mereka begitu berantakan berjibaku.

 

Kudengar pikiran membicarakan perihal norma dan ketidakberhargaan.

Ia bertengkar dengan hati yang mendayu-dayu mengumandangkan kerelaan.

 

Kerelaan memberi.

Memberi sesuatu…

 

… yang pantaskah diberi?

 

140510_013938.pngcr

 

@kekasihpuisi

Meaningfull vs Worthless…

Aku Rumahmu

Tuntaskah pengembaraanmu, Sayang?
Mencicipi beragam air dan madu seluruh penjuru dunia.

Aku menantimu kembali ke pelukanku
tak berubah.
Menulis surat setiap hari padamu
walau bukan suratku yang kau tunggu.

Dunia memberi debar padamu
– aku memberi hangat dari genggam tanganku
Dunia mencumbumu panas
– aku memelukmu damai hingga ke hati

Aku melihatmu teramat berharga
Anugerah yang diturunkan Tuhan ke dunia

Tak harus melakukan apa-apa
Tak harus menjadi apa-apa
Kau lebih cantik dari apapun.

Apa lagi yang kau cari, Sayang?
Pulanglah
Aku rumahmu

140505/22:31

@kekasihpuisi
Image

Teruntuk Kamu-ku

Aku sedang bergulat dengan hidup dan pikiranku sendiri
Untuk kita
Sesekali aku kehilangan fokus dan berjalan menjauh darimu.
Peluk aku dalam cahayamu agar tak kehilangan arah lagi.

Aku menujumu
Menuju kita
Bersabarlah menunggu.

140503/10:38WIB

 

Let It Be Like This

You have your own life,

and I have mine.

We also have our own togetherness.

 

Just live your life,

and I live mine

as well as we can.

 

If you have to shed tears

and sweat to be swept,

just come back to me.

I’ll make it all right.

 

Image

 

Palembang, tutup buku

@kekasihpuisi

Cover “Koma, Bukan Titik!” dan Doppleganger-nya

Tadi pagi sambil menunggu teman di TB Gramedia, mata saya tertumbuk pada satu buku berjudul KOMA, ditulis oleh Rachmania Arunita – penulis novel Eiffel I’m In Love. Selain pada judulnya, saya penasaran dengan desain sampulnya. Mengingatkan saya pada desain sampul buku komunitas Fiksimini Palembang“Koma, Bukan Titik!” – terbitan Nulisbuku Oktober 2011 lalu, yang kebetulan desainernya adalah saya dengan dibantu ide oleh teman-teman Fiksimini Palembang. Di twitter ternyata juga sudah ramai pembahasan mengenai kemiripan sampul buku ini, bahkan judul bukunya.

komabukantitik1

Cover Koma, Bukan Titik! buku Fiksimini Palembang (2011)

koma

Cover Koma, buku Rachmania Arunita (2013)

Tidak sedemikian menyalahkan kemiripan yang terjadi, karena toh mungkin cuma kebetulan. Karena begitu banyak yang memakai nama ‘Koma’ di Indonesia ini. Ada Komunitas Teater Koma, buku Koma Bukan Titik, bahkan buku Koma karya Rachmania ini.

Saya mencoba berpositif thinking. Mungkin saja saat Rachmania menyerahkan draft “Koma”, tim desainer googling untuk mencari ide. Dan kebetulan, ketemulah sampul “Koma, Bukan Titik” – di web nulisbuku, atau di tumblr saya. Dan dia/mereka (desainer cover, red.) terinspirasi dari sana. Dan akhirnya membuat cover yang cantik dengan kombinasi warna candy, berbeda dengan konsep ‘antik’ di cover “Koma, Bukan Titik!”. Jika benar, terima kasih telah terinspirasi dari ide kami.

Sekali lagi saya katakan anggapan ini masih: Mungkin. Sangat banyak kata mungkin di sini. Menduga-duga.

Mungkin juga ini murni hasil pemikiran keras desainer – yang sayangnya – mirip dengan ide kami dua tahun lalu, dan kemudian menimbulkan tanda tanya di kalangan teman-teman yang sudah tahu tentang “Koma, Bukan Titik!” sebelumnya.

Saya ingin sedikit cerita tentang filosofi tentang ‘item-item’ yang ada di cover “Koma, Bukan Titik!”

Buku kumpulan karya anak-anak Komunitas Fiksimini Palembang ini bertema “Ledakkan Imajinasimu!”. Berisi bermacam-macam cerita dan berbagai warna dari para penulis di Komunitas Fiksimini. Dari sini pemikiran kami berkembang kepada pernyataan bahwa imajinasi itu tak terbatas; dan karena itulah lambang INFINITY dipakai dalam desain sampul. Lambang infinity ini terbentuk dari kombinasi tanda KOMA, yang bermakna senada; bahwa imajinasi tidak akan pernah berhenti, akan terus berlanjut – koma, dan tidak akan bertemu titik. KOMA, BUKAN TITIK!

Saya jadi penasaran, apa makna infinity yang ada di cover Rachmania?

Kemiripan dan kebetulan bukanlah suatu kesalahan – jika tidak disengaja.
Pembahasan seperti ini juga ada di blog Rido Arbain: Beberapa Sampul Buku yang Punya ‘Kemiripan’ dan Blackplume: Recycled Cover Art in YA Books

NB:
Tulisan ini bukan untuk menuntut sesuatu – materi ataupun pengakuan – dari pihak terkait. Hanya untuk mengekspresikan rasa excited saya, sekaligus untuk flashback – mengenang – semangat Komunitas Fiksimini Palembang beberapa tahun lalu. Toh dengan adanya ini saya juga merasa bangga karena ide cover kami dua tahun yang lalu ternyata cukup menarik untuk diterbitkan publisher. Mungkin :))

Jika ada yang ingin memesan buku “Koma, Bukan Titik!” Fiksimini Palembang, bisa langsung pesan ke Nulisbuku atau ke Saya. Sekalian promosi :))

nulisbuku 2

Penampakan “Koma, Bukan Titik” di web Nulisbuku

Seperti Benda Langit

Interaksi manusia seperti benda langit.

Kita dan pribadi-pribadi sekitar, pernah bertumbukan
sadar atau tidak
sekali, beberapa kali, bahkan selalu.

Tumbukan yang melahirkan percikan pelangi
dan yang melahirkan kobaran api
akan membekas di ingatan.
Sedang gesekan-gesekan kecil sering kali terabaikan.

Tapi ingatan manusia tak seperti benda langit.
Manusia senang mengenang-ngenang.

Saat seseorang menghilang
terurai bersama bumi.
Kita mulai melihat ke belakang
menemukan bekas gores dan penyok-penyok kecil di ingatan.
Kemudian tercenung.

Entah merenungkan kehilangan yang baru terasa
atau merenungkan bekas tumbukan yang baru tampak oleh mata.

Setelah sejenak tercenung, kehidupan kembali berjalan
benda langit berputar pada porosnya
mengalami tumbukan-tumbukan dan gesekan-gesekan lainnya.
Hingga suatu saat kita sendiri menghilang dan lengkap untuk dikenang.

Palembang, 27 November 2013
Mengenang Om Essen (10 Juli 1956 – 21 November 2013)
dan M. Arfandi @toiletcafe (26 April 1980 – 26 November 2013)

@kekasihpuisi

Anggap Saja Kita Bertemu Di Kursi Taman untuk Berbincang Sesaat

Sejak awal kau katakan

– Kita tak akan jadi sesuatu

Aku keras kepala

Memaksa kerlip lilinku mengalahkan pekat gelapmu

Aku kalah, meleleh

Kau pergi dalam bisumu, tak menoleh

 

Palembang, 18 Juli 2013

00.02

Reminiscence

#5

Mengusik masa lalu membuktikan bahwa kau tidak bahagia saat ini.

 

~ @kekasihpuisi 130114