Category Archives: tentang rasa

Huruf-Huruf Hangat

Huruf-Huruf Hangat
Kepada Sapardi Djoko Damono

Malam ini, kembali
kita berkutat mengulik huruf demi huruf yang masih hangat;
beberapa waktu lalu kita ambil dari bara perapian.

Untuk apa?
Cemooh laron yang sesekali lewat melihat jemari kita melepuh melawan kobar api.
Hanya senyum yang menjawab tanda tanya
karena kata-kata terasa begitu berharga.

Percik hujan yang satu-satu memercik ke kaca jendela,
Angin yang menyusup pelan melewati sela-sela pintu dan ventilasi,
Serta gemeretak kayu bakar yang sekali dua kali melompat dan terpantul pada dinding perapian,
Menemani kita yang saling bertukar seperangkat kata.

Boleh kupinjam kaca matamu, Pak?
Kata-kataku bersemu memerah seakan ingin kembali masuk ke dalam kerongkongan dan tak pernah keluar lagi.

Kembali, hanya senyum yang kau pinjamkan padaku.
Begitu sederhana.
Membuat huruf-huruf hangat tadi terangkai menjadi sepasang bingkai.
Lekat di mataku.

@kekasihpuisi
Jambi, 31 Maret 2011
Rani Amalia Busyra

image

Sapardi Djoko Damono adalah seorang pujangga Indonesia terkemuka. Beliau menulis puisi, prosa, cerpen, esei, dan mengerjakan beberapa terjemahan. Banyak puisinya yang dimusikalisasikan, seperti Aku Ingin dan Hujan Bulan Juni.

Bagi saya, kata-kata sederhana dalam larik-larik puisinya terasa tulus dan menghangatkan hati.

Bagi saya, membaca puisi-puisi beliau adalah sebuah peristirahatan bagi jiwa, seperti sebuah oasis yang keberadaannya sangat diharapkan di tengah-tengah gurun pasir.

Sumber foto:
Instagram @sapardi_djokodamono

Cara Menulis Puisi

Aku mencari cara menulis puisi
Disodorkan gumpalan abu-abu bentuk awan
Pinggirannya gelombang tak beraturan
Di belakangnya bersembunyi pelangi enam warna
Kehilangan jingga

Aku mencari cara menulis puisi
Disuguhkan segelas penuh kopi hitam
Seperti kamar kelam saat ditatap dalam
Terlihat kepulan asap berputar-putar
Tak temu jalan keluar

Aku mencari cara menulis puisi
Diperdengarkan satu dua tiga lagu
Konstruksi iramanya akrab di telinga
Bernada satu bangun
Tak beda

Aku mencari cara menulis puisi
Diperlihatkan bangunan beton tinggi
Di kaki-kakinya mencuat rangka pondasi
Merah
Berkarat

Aku mencari cara menulis puisi
Kutemukan sebatang pensil dan sehelai kertas
Entah bentuk apa
Entah warna apa
Menulislah saja

@kekasihpuisi
Palembang, 13 April 2016
11.46 WIB

Pesan Untuk Diri Sendiri

Seseorang selalu mengingatkanku.
Jika kau seringkali membiarkan dirimu larut dalam rasa sedih atau menangisi sesuatu yang tidak perlu, itu sama saja dengan kufur nikmat.
Tidak mensukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan kepadamu.

Ingat-ingat kembali apa saja yang kau miliki.
Tubuh yang sehat, keluarga yang lengkap dan berkecukupan.
Level-level hidup yang telah berhasil dicapai.
Seseorang yang dengan tulus mencintai.

Lalu apa yang membuatmu sedih?
Apakah hal tersebut lebih penting daripada anugerah yang telah kau terima dalam hidupmu?
Apakah alasan untuk bersedih itu lebih pantas daripada alasan untuk bersukur?

Think again!
Save your tears
Mubazir bersedih untuk sesuau yang tidak akan ada hubungannya dengan masa depanmu kelak.

tiada sisi temu

kita adalah dua keping berbeda
yang tidak memiliki sisi temu
dan tak dapat menciptakan serpihan pelengkap
untuk mengisi kekosongan antara kita

Ribuan Detik Retrouvailles Bersamamu

Kita bertemu dan terlempar ke masa lalu
Mengenang kisah-kisah yang tak bisa membuat kita bersatu

~
Ketika itu mati lampu
Ketakutan tidak memberiku pilihan kecuali meneriakkan namamu
Kau datang menjagaku dalam kantuk
Debar tersemai saat itu, tumbuh menjelma siluetmu
Indah dalam gelap

~
Saat mengantarku pulang sebuah lagu kau perdengarkan
dan kita berputar memperpanjang rute jalan hanya untuk mengulangnya bersama

Tiba-tiba aku meremas lenganmu
Ada ancaman di mata-mata sapi dengan tanduk-tanduk tajamnya
Kikuk, remasan itu melunak menjadi genggaman dan bergerak turun ke telapak tangan
Hingga tiba

~
Sengatan listrik di ujung jemari membuat kita candu
Sembunyi-sembunyi kita tautkan dalam gelap di tengah pemutaran film saat serempak mengambil berondong jagung

Sengatan itu sampai ke kepala dan merombak ulang pemikiran, cita-cita, semua yang rapi kususun
– bukan bersamamu

Pandangan yang kita curi satu sama lain
Sentuhan-sentuhan yang kita cari-cari waktunya
Gambar hati yang buru-buru kau hapus dari punggung tanganmu sesaat setelah aku iseng mencoretkannya

Dari semua itu kita tahu ‘kita tak dapat bersatu’
walau bersamamu bagai sebuah mimpi terwujud bagiku
Merasakan cinta yang jatuh dan sadar harus pupus pada akhirnya

Andai bisa kubeli waktu
Aku ingin ribuan detik retrouvailles bersamamu

140524
@kekasihpuisi

Malam Puisi Palembang #9

… yang pantaskah diberi?

Aku sedang mencoba merapikan logika dan rasa.

Mereka begitu berantakan berjibaku.

 

Kudengar pikiran membicarakan perihal norma dan ketidakberhargaan.

Ia bertengkar dengan hati yang mendayu-dayu mengumandangkan kerelaan.

 

Kerelaan memberi.

Memberi sesuatu…

 

… yang pantaskah diberi?

 

140510_013938.pngcr

 

@kekasihpuisi

Meaningfull vs Worthless…

Aku Rumahmu

Tuntaskah pengembaraanmu, Sayang?
Mencicipi beragam air dan madu seluruh penjuru dunia.

Aku menantimu kembali ke pelukanku
tak berubah.
Menulis surat setiap hari padamu
walau bukan suratku yang kau tunggu.

Dunia memberi debar padamu
– aku memberi hangat dari genggam tanganku
Dunia mencumbumu panas
– aku memelukmu damai hingga ke hati

Aku melihatmu teramat berharga
Anugerah yang diturunkan Tuhan ke dunia

Tak harus melakukan apa-apa
Tak harus menjadi apa-apa
Kau lebih cantik dari apapun.

Apa lagi yang kau cari, Sayang?
Pulanglah
Aku rumahmu

140505/22:31

@kekasihpuisi
Image

Teruntuk Kamu-ku

Aku sedang bergulat dengan hidup dan pikiranku sendiri
Untuk kita
Sesekali aku kehilangan fokus dan berjalan menjauh darimu.
Peluk aku dalam cahayamu agar tak kehilangan arah lagi.

Aku menujumu
Menuju kita
Bersabarlah menunggu.

140503/10:38WIB

 

Let It Be Like This

You have your own life,

and I have mine.

We also have our own togetherness.

 

Just live your life,

and I live mine

as well as we can.

 

If you have to shed tears

and sweat to be swept,

just come back to me.

I’ll make it all right.

 

Image

 

Palembang, tutup buku

@kekasihpuisi

Seperti Benda Langit

Interaksi manusia seperti benda langit.

Kita dan pribadi-pribadi sekitar, pernah bertumbukan
sadar atau tidak
sekali, beberapa kali, bahkan selalu.

Tumbukan yang melahirkan percikan pelangi
dan yang melahirkan kobaran api
akan membekas di ingatan.
Sedang gesekan-gesekan kecil sering kali terabaikan.

Tapi ingatan manusia tak seperti benda langit.
Manusia senang mengenang-ngenang.

Saat seseorang menghilang
terurai bersama bumi.
Kita mulai melihat ke belakang
menemukan bekas gores dan penyok-penyok kecil di ingatan.
Kemudian tercenung.

Entah merenungkan kehilangan yang baru terasa
atau merenungkan bekas tumbukan yang baru tampak oleh mata.

Setelah sejenak tercenung, kehidupan kembali berjalan
benda langit berputar pada porosnya
mengalami tumbukan-tumbukan dan gesekan-gesekan lainnya.
Hingga suatu saat kita sendiri menghilang dan lengkap untuk dikenang.

Palembang, 27 November 2013
Mengenang Om Essen (10 Juli 1956 – 21 November 2013)
dan M. Arfandi @toiletcafe (26 April 1980 – 26 November 2013)

@kekasihpuisi

Anggap Saja Kita Bertemu Di Kursi Taman untuk Berbincang Sesaat

Sejak awal kau katakan

– Kita tak akan jadi sesuatu

Aku keras kepala

Memaksa kerlip lilinku mengalahkan pekat gelapmu

Aku kalah, meleleh

Kau pergi dalam bisumu, tak menoleh

 

Palembang, 18 Juli 2013

00.02

Reminiscence