Category Archives: tentang rasa

Kau Menjual Rumah Kita

Rumah ini bukan rumah kita lagi
Kaki-kaki harus beranjak pergi
Melangkah ke dunia luar
Buas liar

Tempat duduk ini bukan tempat kita melepas lelah lagi
Tubuh harus berdiri
Beranjak ke luar pintu
Ke malam dingin beku

Sampai kapan senyum terpajang
Jika semua terbang hilang

Begini rasanya kehilangan diri sendiri
Nikmatnya selewat, kemudian pontang panting mencari lagi

@kekasihpuisi
Palembang, 19 Agustus 2017
01.05
Entah akan ikut atau tinggal saja

Advertisements

Dismotivasi

Orang-orang cuma bisa ngomong.
Lidah dan bibir bergoyang-goyang.
Mulut-mulut bersuara tanpa tau apa yang dikatakan.
Berusaha membenarkan diri dengan menyalahkan.

Hei, kalian!
Tak tahukah tanpa dikerjakan tak ada yang bisa jalan?

Orang-orang cuma bisa ngomong.
Melolong tanpa niat menolong.
Sedang yang kerja itu-itu saja.

@kekasihpuisi
Palembang, 18 Agustus 2017
21.08
Saat penghargaan sama rata, entah berusaha atau tidak

Mencintaimu Lagi

Memperhatikanmu dari kejauhan
Bermain musik
Berolahraga
Sesekali melirik dan mengedip nakal ke arahku

Lagi
Kubayangkan seandainya kau tak mencintaiku

Tak ada leluconmu membujukku
Tak ada telunjukmu mengetuk sayang dahiku

Tak lagi kau jemput aku di beranda pagi
susuri dingin jalan kota
Tak lagi dapat kupeluk lingkar pinggangmu
bersandar di pundakmu dan menyanyikan lagu entah apa itu
Tak lagi cubitmu gemas di punggung tanganku

Mencoba mencintaimu lagi
Dengan berandai kau tak lagi mencintaiku
Tak lagi kau balas ucapan cintaku
dengan kecup lembut di mata sembari berkata
– “Aku lebih mencintaimu”

Tak lagi kau di sisiku
Tak lagi kau di hari-hariku
Tak lagi kau berusaha menjalani kehidupan yang lebih baik
Untukku

Aku mencoba mencintaimu lagi
Sejenak hatiku terasa kosong
Kemudian tiba-tiba penuh akan warnamu
Aromamu
Tawamu

Dan aku sadar
Aku sangat mencintaimu

 

@kekasihpuisi
Momea Futsal Palembang, 2014

Menemukan persimpangan dalam hidup.
Aku memilih, bahkan sebelum semuanya perlahan kuakhiri.
Meski kau tak tahu.
Meski kau tak menganggapnya begitu.

I love you, “I love you more”

Musim Dingin Abadi

Kelopak bunga berguguran
Semi telah berlalu

Kau simpankah kenangan ketika warna-warni bermekaran di hatimu?

Ingin kuabadikan senyumanmu
Selembar saja
Untuk temaniku memeluk rindu sendiri
Menanti semi berikutnya yang tak akan pernah tiba

@kekasihpuisi
Palembang, 24 November 2017
00.37

Pertanyaan

Kita bisa apa
berdua

Banyak
katamu
Lalu kita perdebatkan angin yang semilir lewat

Hatimu pergi

Aku bisa apa
tanpamu

Tak ada yang menyambut desahku
Angin semilir yang kita perdebatkan membelaiku
Kini kau sendiri
katanya

@kekasihpuisi
Palembang, 26 Agustus 2017
05.02
tiba-tiba terbayang kehilanganmu

Huruf-Huruf Hangat

Huruf-Huruf Hangat
Kepada Sapardi Djoko Damono

Malam ini, kembali
kita berkutat mengulik huruf demi huruf yang masih hangat;
beberapa waktu lalu kita ambil dari bara perapian.

Untuk apa?
Cemooh laron yang sesekali lewat melihat jemari kita melepuh melawan kobar api.
Hanya senyum yang menjawab tanda tanya
karena kata-kata terasa begitu berharga.

Percik hujan yang satu-satu memercik ke kaca jendela,
Angin yang menyusup pelan melewati sela-sela pintu dan ventilasi,
Serta gemeretak kayu bakar yang sekali dua kali melompat dan terpantul pada dinding perapian,
Menemani kita yang saling bertukar seperangkat kata.

Boleh kupinjam kaca matamu, Pak?
Kata-kataku bersemu memerah seakan ingin kembali masuk ke dalam kerongkongan dan tak pernah keluar lagi.

Kembali, hanya senyum yang kau pinjamkan padaku.
Begitu sederhana.
Membuat huruf-huruf hangat tadi terangkai menjadi sepasang bingkai.
Lekat di mataku.

@kekasihpuisi
Jambi, 31 Maret 2011
Rani Amalia Busyra

image

Sapardi Djoko Damono adalah seorang pujangga Indonesia terkemuka. Beliau menulis puisi, prosa, cerpen, esei, dan mengerjakan beberapa terjemahan. Banyak puisinya yang dimusikalisasikan, seperti Aku Ingin dan Hujan Bulan Juni.

Bagi saya, kata-kata sederhana dalam larik-larik puisinya terasa tulus dan menghangatkan hati.

Bagi saya, membaca puisi-puisi beliau adalah sebuah peristirahatan bagi jiwa, seperti sebuah oasis yang keberadaannya sangat diharapkan di tengah-tengah gurun pasir.

Sumber foto:
Instagram @sapardi_djokodamono

Cara Menulis Puisi

Aku mencari cara menulis puisi
Disodorkan gumpalan abu-abu bentuk awan
Pinggirannya gelombang tak beraturan
Di belakangnya bersembunyi pelangi enam warna
Kehilangan jingga

Aku mencari cara menulis puisi
Disuguhkan segelas penuh kopi hitam
Seperti kamar kelam saat ditatap dalam
Terlihat kepulan asap berputar-putar
Tak temu jalan keluar

Aku mencari cara menulis puisi
Diperdengarkan satu dua tiga lagu
Konstruksi iramanya akrab di telinga
Bernada satu bangun
Tak beda

Aku mencari cara menulis puisi
Diperlihatkan bangunan beton tinggi
Di kaki-kakinya mencuat rangka pondasi
Merah
Berkarat

Aku mencari cara menulis puisi
Kutemukan sebatang pensil dan sehelai kertas
Entah bentuk apa
Entah warna apa
Menulislah saja

@kekasihpuisi
Palembang, 13 April 2016
11.46 WIB

Pesan Untuk Diri Sendiri

Seseorang selalu mengingatkanku.
Jika kau seringkali membiarkan dirimu larut dalam rasa sedih atau menangisi sesuatu yang tidak perlu, itu sama saja dengan kufur nikmat.
Tidak mensukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan kepadamu.

Ingat-ingat kembali apa saja yang kau miliki.
Tubuh yang sehat, keluarga yang lengkap dan berkecukupan.
Level-level hidup yang telah berhasil dicapai.
Seseorang yang dengan tulus mencintai.

Lalu apa yang membuatmu sedih?
Apakah hal tersebut lebih penting daripada anugerah yang telah kau terima dalam hidupmu?
Apakah alasan untuk bersedih itu lebih pantas daripada alasan untuk bersukur?

Think again!
Save your tears
Mubazir bersedih untuk sesuau yang tidak akan ada hubungannya dengan masa depanmu kelak.

tiada sisi temu

kita adalah dua keping berbeda
yang tidak memiliki sisi temu
dan tak dapat menciptakan serpihan pelengkap
untuk mengisi kekosongan antara kita

Ribuan Detik Retrouvailles Bersamamu

Kita bertemu dan terlempar ke masa lalu
Mengenang kisah-kisah yang tak bisa membuat kita bersatu

~
Ketika itu mati lampu
Ketakutan tidak memberiku pilihan kecuali meneriakkan namamu
Kau datang menjagaku dalam kantuk
Debar tersemai saat itu, tumbuh menjelma siluetmu
Indah dalam gelap

~
Saat mengantarku pulang sebuah lagu kau perdengarkan
dan kita berputar memperpanjang rute jalan hanya untuk mengulangnya bersama

Tiba-tiba aku meremas lenganmu
Ada ancaman di mata-mata sapi dengan tanduk-tanduk tajamnya
Kikuk, remasan itu melunak menjadi genggaman dan bergerak turun ke telapak tangan
Hingga tiba

~
Sengatan listrik di ujung jemari membuat kita candu
Sembunyi-sembunyi kita tautkan dalam gelap di tengah pemutaran film saat serempak mengambil berondong jagung

Sengatan itu sampai ke kepala dan merombak ulang pemikiran, cita-cita, semua yang rapi kususun
– bukan bersamamu

Pandangan yang kita curi satu sama lain
Sentuhan-sentuhan yang kita cari-cari waktunya
Gambar hati yang buru-buru kau hapus dari punggung tanganmu sesaat setelah aku iseng mencoretkannya

Dari semua itu kita tahu ‘kita tak dapat bersatu’
walau bersamamu bagai sebuah mimpi terwujud bagiku
Merasakan cinta yang jatuh dan sadar harus pupus pada akhirnya

Andai bisa kubeli waktu
Aku ingin ribuan detik retrouvailles bersamamu

140524
@kekasihpuisi

Malam Puisi Palembang #9