Category Archives: sahabat

Malam Puisi Palembang: Protokol Hujan

Sabtu, 21 Mei 2016 lalu, Malam Puisi Palembang menggelar Peluncuran, Pembacaan dan Bedah Buku Protokol Hujan di Gowes Cafe Chat and Fun. Protokol Hujan adalah buku Kumpulan Puisi pertama Arco Transep yang diterbitkan oleh Indie Book Corner Jogja pada April 2016 ini.

Acara ke 31 Malam Puisi Palembang ini, seperti biasa, dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan kita “Indonesia Raya” setelah itu langsung dilanjutkan oleh pembacaan puisi sekaligus kata sambutan oleh Dyaz Afryan. Seluruh puisi yang dibacakan malam ini adalah puisi-puisi dari buku Protokol Hujan.

Protokol Hujan merupakan kumpulan puisi Arco transep dalam rentang waktu 2009 hingga 2016. Sebelum mulai menulis puisi, sejak tahun 2006 Arco mencipta lirik lagu untuk band-nya, Kimzy. Menurut Arco, puisi-puisi yang terangkum dalam Protokol Hujan adalah jejak perjalanannya selama tinggal di Jogja, Bandung, Jakarta, Bali, Surabaya dan Malang. Baginya menulis berarti menumpahkan keresahan dan gejolak yang tidak bisa ditumpahkan melalui perbincangan dengan seseorang.

Beberapa puisi yang paling disukai Arco dalam buku ini adalah Gadis dan Puisi, Jejak Kepulangan, dan Perempuan dalam Sukmaku. Gadis dan Puisi adalah puisi pertama Arco yang merupakan hasil pengamatan dan wujud rasa penasarannya terhadap perempuan-perempuan di sekitarnya yang menyukai puisi. Jejak Kepulangan merupakan penggambaran Arco akan arti ‘pulang’ baginya, dari perjalanan kelana dalam kehidupan pulang kepada ketiadaan.

Menurut Muhammad Arfani, pembicara dalam sesi bedah buku ini, Arco adalah seorang penulis yang produktif dan tidak takut kehabisan ide. Arco menjadikan objek apa pun yang dilihat dan dirasakannya sebagai sumber inspirasi. Dalam buku ini sangat terlihat proses kepenulisan Arco dari dulu hingga sekarang. Sayangnya, Arco tidak menerakan tanggal pembuatan dan tempat untuk sebagian besar puisinya, karena waktu dan tempat pembuatan puisi terkait dengan filologi penulis itu sendiri.

Berbicara tentang proses cetak, Protokol Hujan menghabiskan waktu sekitar 6 bulan dimulai dari kurasi, pengeditan, desain cover, hingga akhirnya diterbitkan. Arco bercerita bahwa sebelum diterbitkan, draft kumpulan puisinya diperlihatkan terlebih dahulu kepada beberapa penyair seperti Khrisna Pabichara, Nanang Suryadi, Pringadi Abdi Surya, dan Irwan Bajang.

Keputusan menerbitkan Protokol Hujan berawal dari keyakinan Arco bahwa kecintaan pada puisi tidak cukup dengan menulis puisi saja, akan tetapi juga harus punya keinginan untuk berbagi. Dengan menerbitkan buku, Arco ingin memotivasi para pencinta puisi dan juga sebagai pacuan bagi dirinya sendiri agar terus berkarya.

Ketika dimintai pesan untuk teman-teman yang ingin mendalami dunia tulis menulis, Arco menjawab: Perbanyaklah membaca buku dan jangan ragu menulis sesuatu yang ingin ditulis. Bukan berarti menulis semena-mena. Tetaplah bertanggung jawab dengan tulisan kita. Rawatlah puisi seperti kata-kata yang merawat keresahan penyairnya, seperti ibu merawat anak-anaknya.

 

Resensi buku Protokol Hujan dapat dilihat di post saya sebelumnya.

Cover “Koma, Bukan Titik!” dan Doppleganger-nya

Tadi pagi sambil menunggu teman di TB Gramedia, mata saya tertumbuk pada satu buku berjudul KOMA, ditulis oleh Rachmania Arunita – penulis novel Eiffel I’m In Love. Selain pada judulnya, saya penasaran dengan desain sampulnya. Mengingatkan saya pada desain sampul buku komunitas Fiksimini Palembang“Koma, Bukan Titik!” – terbitan Nulisbuku Oktober 2011 lalu, yang kebetulan desainernya adalah saya dengan dibantu ide oleh teman-teman Fiksimini Palembang. Di twitter ternyata juga sudah ramai pembahasan mengenai kemiripan sampul buku ini, bahkan judul bukunya.

komabukantitik1

Cover Koma, Bukan Titik! buku Fiksimini Palembang (2011)

koma

Cover Koma, buku Rachmania Arunita (2013)

Tidak sedemikian menyalahkan kemiripan yang terjadi, karena toh mungkin cuma kebetulan. Karena begitu banyak yang memakai nama ‘Koma’ di Indonesia ini. Ada Komunitas Teater Koma, buku Koma Bukan Titik, bahkan buku Koma karya Rachmania ini.

Saya mencoba berpositif thinking. Mungkin saja saat Rachmania menyerahkan draft “Koma”, tim desainer googling untuk mencari ide. Dan kebetulan, ketemulah sampul “Koma, Bukan Titik” – di web nulisbuku, atau di tumblr saya. Dan dia/mereka (desainer cover, red.) terinspirasi dari sana. Dan akhirnya membuat cover yang cantik dengan kombinasi warna candy, berbeda dengan konsep ‘antik’ di cover “Koma, Bukan Titik!”. Jika benar, terima kasih telah terinspirasi dari ide kami.

Sekali lagi saya katakan anggapan ini masih: Mungkin. Sangat banyak kata mungkin di sini. Menduga-duga.

Mungkin juga ini murni hasil pemikiran keras desainer – yang sayangnya – mirip dengan ide kami dua tahun lalu, dan kemudian menimbulkan tanda tanya di kalangan teman-teman yang sudah tahu tentang “Koma, Bukan Titik!” sebelumnya.

Saya ingin sedikit cerita tentang filosofi tentang ‘item-item’ yang ada di cover “Koma, Bukan Titik!”

Buku kumpulan karya anak-anak Komunitas Fiksimini Palembang ini bertema “Ledakkan Imajinasimu!”. Berisi bermacam-macam cerita dan berbagai warna dari para penulis di Komunitas Fiksimini. Dari sini pemikiran kami berkembang kepada pernyataan bahwa imajinasi itu tak terbatas; dan karena itulah lambang INFINITY dipakai dalam desain sampul. Lambang infinity ini terbentuk dari kombinasi tanda KOMA, yang bermakna senada; bahwa imajinasi tidak akan pernah berhenti, akan terus berlanjut – koma, dan tidak akan bertemu titik. KOMA, BUKAN TITIK!

Saya jadi penasaran, apa makna infinity yang ada di cover Rachmania?

Kemiripan dan kebetulan bukanlah suatu kesalahan – jika tidak disengaja.
Pembahasan seperti ini juga ada di blog Rido Arbain: Beberapa Sampul Buku yang Punya ‘Kemiripan’ dan Blackplume: Recycled Cover Art in YA Books

NB:
Tulisan ini bukan untuk menuntut sesuatu – materi ataupun pengakuan – dari pihak terkait. Hanya untuk mengekspresikan rasa excited saya, sekaligus untuk flashback – mengenang – semangat Komunitas Fiksimini Palembang beberapa tahun lalu. Toh dengan adanya ini saya juga merasa bangga karena ide cover kami dua tahun yang lalu ternyata cukup menarik untuk diterbitkan publisher. Mungkin :))

Jika ada yang ingin memesan buku “Koma, Bukan Titik!” Fiksimini Palembang, bisa langsung pesan ke Nulisbuku atau ke Saya. Sekalian promosi :))

nulisbuku 2

Penampakan “Koma, Bukan Titik” di web Nulisbuku

Seperti Benda Langit

Interaksi manusia seperti benda langit.

Kita dan pribadi-pribadi sekitar, pernah bertumbukan
sadar atau tidak
sekali, beberapa kali, bahkan selalu.

Tumbukan yang melahirkan percikan pelangi
dan yang melahirkan kobaran api
akan membekas di ingatan.
Sedang gesekan-gesekan kecil sering kali terabaikan.

Tapi ingatan manusia tak seperti benda langit.
Manusia senang mengenang-ngenang.

Saat seseorang menghilang
terurai bersama bumi.
Kita mulai melihat ke belakang
menemukan bekas gores dan penyok-penyok kecil di ingatan.
Kemudian tercenung.

Entah merenungkan kehilangan yang baru terasa
atau merenungkan bekas tumbukan yang baru tampak oleh mata.

Setelah sejenak tercenung, kehidupan kembali berjalan
benda langit berputar pada porosnya
mengalami tumbukan-tumbukan dan gesekan-gesekan lainnya.
Hingga suatu saat kita sendiri menghilang dan lengkap untuk dikenang.

Palembang, 27 November 2013
Mengenang Om Essen (10 Juli 1956 – 21 November 2013)
dan M. Arfandi @toiletcafe (26 April 1980 – 26 November 2013)

@kekasihpuisi

Merindukan Sepimu Di Tengah Hiruk Garis Masa

: Mahesa Aditya

Setengah putaran matahari sudah
jejak waktu berhenti menghitung usiamu
Dirimu begitu sunyi, Mahesa
hingga langkah pergimu pun tak terbaca

Baru sekarang derai hujan sampai dan lesap di hati
Tetesnya yang ramai
walau sekejap
cukup untuk kupakai merajut kata-kata
mengenangmu
Meski tak mampu seindah sepimu
yang senantiasa kunanti terselip di hiruk garis masa

Bertenanglah, kawan
dalam kekhusyukan diam
Baris-baris singkatmu telah tertitip baik pada dunia
Hidup dalam kenangan

@kekasihpuisi
Setelah derai hujan, 111014