Monthly Archives: October 2011

Kali Ini Berbeda

“Bersikaplah biasa,” aku menguatkan hati, “Bersikap biasa seperti saat kami berpisah di depan loket keberangkatan beberapa bulan lalu.”

Aku terdiam sendiri. Bagaimana bisa? Walaupun saat itu dan kini sama-sama bernama perpisahan. Walau sama-sama bukan untuk selamanya. Tapi kali ini begitu berbeda.

“Kalaupun tak bisa, setidaknya jangan sampai ada air mata,” sedemikian rupa kucoba menguatkan hati.

Aku berdiri dari tempat dudukku, kemudian menyeret langkahku yang menggigil, semakin mendekat ke arahmu. Dari kejauhan, aku tahu kamu melihatku, juga melihat langkah gemetarku. Karena itu aku tak berani menatap ke arahmu, takut kita bersitatap dan meruntuhkan benteng pertahanan mataku.

Ini saat-saat terberat dalam hidupku. Menjabat tanganmu.

“Selamat menempuh hidup baru.”

Mempelai di sebelahmu tersenyum. Cantik.

On Jejakubikel:
http://t.co/ZpB8yav7

Trilogi Tak Sampai

09:52
Beberapa waktu silam kau sodorkan aku sekantong bibit bunga
Tanamlah di hatimu
Penuh sumringah kuraih kantong itu dan kupeluk erat-erat seakan takut dirimu berubah fikiran dan mengambilnya kembali

Segera saja, kutaburkan bibit itu ke seluruh penjuru
hatiku
Seketika batang-batang mungil dan dedaunannya menguasai seluruh permukaan
hatiku
Bahkan saat pertama kali durinya melukai,aku tersenyum
Tak masalah sampai kesekiankalipun
Karena ini pemberianmu

Hingga musim semi berlalu
terduduk aku di tepian hati
Menatapi
batang
daun dan
duri saja
dari bibit pemberianmu

10:00
Di sebuah pesta
tanpa sengaja kau tumpahkan segelas cinta
tepat di dadaku
Maaf
Sambil berusaha membersihkan bekasnya yang tak kunjung hilang
Hingga pesta berakhir
“Aku harus pergi
kekasihku sudah menunggu untuk diantarkan pulang”
Dirimu memohon diri

15:00
Kau tak akan sadar kupu-kupu yang kucuri darimu
Saat ini ia tersenyum-senyum sumringah
ditingkah cengkerama genggamku

Kau tak akan sadar kupu-kupu yang kucuri darimu
Entah karena terlalu banyak kupu-kupu
Atau dia tak pernah ada bagimu

@kekasihpuisi
Dalam ingatan

Tari Jemari

Seumpama bumi yang berputar tiada henti
Seumpama permukaan laut tertiup angin dan menghantarkan ombaknya ke pantai
Seumpama perjalanan sang air menjelajahi lingkaran kisahnya
– Tak ada kuasa yang dapat menahannya

Begitupun ketidakberdayaanku mengikuti gerak jemarimu
mengelilingi dunia
menghinggapi rasa-rasa
melahirkan tanda tanya
menoreh toreh luka

Rentanglah sebebasnya
Tak kuasa kupikat hatimu

@kekasihpuisi
setelah gerimis pagi

Bukan Jiwa

: Kepada Hati yang Jauh

Panggillah
Panggil jiwa yang kau anggap jiwa
Aku bukanlah jiwa
Karena telah mati dalam rasa kebas menggapai-gapaimu

Minta ia menemanimu mereguk anggur sepi
Bukan bersamaku
Karena aku tak biasa minum anggur
Aku terbiasa minum air garam yang lahir dari pelupuk mata sendiri

Bercengkramalah dengannya
Kaubilang ia senada denganmu
Menari-nari di atas alunan yang sewarna
Sedangkan aku tak pandai menari sedikitpun
Sendiku kaku oleh karat
Berhujan berpanas dalam cuaca yang kulewati menujumu

Panggillah
Panggil jiwa yang kau anggap jiwa
Jiwa yang masih hidup
Yang kau bisa mereguk sepi bersamanya
Yang kau bisa bercengkrama dengan tariannya

Leluasalah
Karena aku tak lagi peduli
Tak lagi membaca loncatan-loncatanmu kesana kemari
Aku diam di sini saja
Aku yang terkalahkan oleh waktunya
Waktu dia yang jiwamu
Yang lebih dulu datang padamu
Dan lebih dahulu kau rengkuh senyum bersamanya

Panggillah
Jiwamu
Pengisi bosanmu
Pengisi luangmu
Pengisi fikirmu
Karena mulai saat ini aku kembali berbicara sendiri

@kekasihpuisi
setelah gerimis pagi

Merindukan Sepimu Di Tengah Hiruk Garis Masa

: Mahesa Aditya

Setengah putaran matahari sudah
jejak waktu berhenti menghitung usiamu
Dirimu begitu sunyi, Mahesa
hingga langkah pergimu pun tak terbaca

Baru sekarang derai hujan sampai dan lesap di hati
Tetesnya yang ramai
walau sekejap
cukup untuk kupakai merajut kata-kata
mengenangmu
Meski tak mampu seindah sepimu
yang senantiasa kunanti terselip di hiruk garis masa

Bertenanglah, kawan
dalam kekhusyukan diam
Baris-baris singkatmu telah tertitip baik pada dunia
Hidup dalam kenangan

@kekasihpuisi
Setelah derai hujan, 111014

Teruntukmu yang Tak Lagi Sudi Menyapa

Aku datang
Bertebal muka membawa cinta untukmu
Penuh binar menatapmu
yang sedemikian rupa memalingkan pandang
Berpura tak melihat gigilku menyeret hati luka
tertatih tercampak-campak

Aku datang
Bertebal muka membawa kabar padamu
Kabar yang bagimu kini sudah tak perlu
Mengajakmu saling bercerita sambil bersembunyi di balik simbol-simbol yang tersenyum

Tanpa banyak kata
Aku
Kamu
tahu pasti
berontakku pada dunia
menyongsong ketiadaan

@kekasihpuisi
Apa kabar, Cinta? 111013