Monthly Archives: September 2011

Aku rindu, Sayang. Tidakkah kamu?

Tahukah kamu,
Aku telah kembali ke ruangan ini.
Di sini masih tersisa aroma kenanganmu.
Masih bergaung cekikikan geliku oleh ulahmu.
Masih tertempel lengkung-lengkung senyumku di seluruh permukaan dinding.
Bahkan debu-debu pun tak menyangkal ada cerita-cerita tentangmu
setiap waktu, saat itu.

Dan, ya…
Ada pula sisa kerusakan yang tertinggal.
– Tak apa, yang penting rasamu ke aku nggak rusak, gombalku.
Kemudian kamu tertawa sambil mencubit gemas hidungku.

Ah,
Lagi-lagi aku terhanyut kenangan
dan mata yang pernah kamu kecup ini kembali menggenang.

Sekarang aku hanya punya rindu
dan debu; yang bercerita tentangmu.
Tentang bukti kehadiranmu di hatiku.

Aku punya mimpi
kita menangis bersama saat berpelukan.
Menangisi kebersamaan kita yang tak panjang.
Menangisi rasaku dan rasamu yang terlanjur lahir begitu rupawan, namun harus dikekang.
Itu tinggal mimpi
karena hanya aku yang merasa kehilangan.
Hidupmu sudah begitu penuh
tak akan merasa kurang jika hanya satu kisah saja yang hilang.

Ah,
aku begitu rindu, Sayang.
Tidakkah kamu?

@kekasihpuisi
Inspirasi tiga kali tiga, 110929

Advertisements

Kabar Tak Bernama

Aku di sini menikmati sunyi
Bersama kenanganmu
Bersama tawa-tawa masa lalu
Bersama percikan kasih sayang yang kau kecupkan di mata
Bersama sisa semangat yang kau titipkan lewat kenangan akan rengkuhan
dan sayup debaranmu, di dada

Ada rindu pada kata-kata sederhana
yang kau sampaikan tanpa puitis sama sekali
Akan ungkapan sayang yang datangnya hanya sesekali,
kemudian menyengat jantung dan menyampaikan desirnya ke seluruh tubuh

Cinta, yang tak kau percaya begitu terbawa matinya
Rasa yang tak kau percaya begitu terberi tulusnya
Kini ada di sini, bersamaku
Duduk dan menyandarkan tubuh-tubuh mereka yang mendingin
Bersama, menanti mimpi datang dibawa hembusan angin

@kekasihpuisi
Jambi, 110926

#1

image

Jika memang tak bisa, jangan buat aku terbiasa.

~ @kekasihpuisi